MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. PENDAHULUAN
Suatu lembaga pendidikan pastilah memerlukan yang
namanya manajemen. Dikatakan demikian karena dengan manajemen mencakup
pengaturan secara luas, baik dari segi sumber daya manusia sekolah maupun hal hal yang terkait lembaga
itu tersendiri. Contoh saja dalam hal siswa, perlu yang namanya manajemen
kesiswaan, karena dengan manajemen kesiswaan, Siswa diatur atau didesain
bagaimana siswa itu menguasai mata pelajaran dengan baik sehingga menghasilkan
lulusan yang baik pula. Oleh karenanya manajemen pendidikan merupakan bagian
dari khazanah keilmuan. Dikatakan demikian karena dari kata ilmu itu sendiri
apabila kita kaji dan telaah, maka sangatlah luas isi cakupannya, bisa dalam
hal pendidikan atau hal - hal lain.
Dari uraian tersebut bisa dipahami bahwasanya dalam bidang
pendidikan terutama pendidikan Islam perlu yang namanya suatu ilmu yang dinamakan
manajemen. Dikatakan demikian karena dengan manajemen, pendidikan Islam itu di kelola dengan baik sehingga menghasilkan apa yang diharapkan.
Oleh karena itu dari sini perlu dikaji secara mendalam agar lebih memahamkan yang
dikehendaki manajemen pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu,
dengan memaparkan beberapa rumusan masalah
1.
Apa pengertian manajemen Pendidikan Islam
2.
Apa hakekat manajemen pendidikan Islam
3.
Mengapa manajemen Pendidikan Islam disebut sebagai disiplin
ilmu
Dari
rumusan diatas, maka tujuan
dari pembahasan ini adalah
1.
Mengetahui manjemen pendidikan Islam
2.
Mengetahui hakekat manajemen pendidikan Islam
3. Mengetahui manajemen pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu
B. PEMBAHASAN
1.
Pengertian Manajemen Pendidikan Islam
1.1.
Manajemen
Dari
sudut istilah, manajemen berasal dari kata kerja "manage". Kata
ini, menurut kamus The Random House dictionary of the English Language,
College Edition, berasal dari bahasa Italia "manegg (iare)"
yang bersumber pada perkataan Latin " manus" yang berarti
" tangan'. Secara harfiah manegg
(iare) berarti 'menangani atau melatih kuda", sementara secara
maknawiah berarti memimpin, membimbing atau mengatur. Ada juga yang berpendapat
bahwa manjemen berasal dari kata kerja bahasa inggris " to manage'
yang sinonim dengan to hand, to control, dan to guide (mengurus,
memeriksa, dan memimpin). Untuk itu, dari asal kata ini manajemen dapat
diartikan pengurusan, pengendalian, memimpin, atau membimbing[1]
Dibawah
ini dijelaskan beberapa pendapat yang menjelaskan tentang pengertian manajemen.
a. George R. terry dalam bukunya yang terkenal berjudul Principle
of Management, dikemukakan bahwa:
"Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari
tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, penggiatan, dan tindakan
pengawasan (controlling), yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia
dan sumber-sumber lain.
b. The Liang Gie
Manajemen sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengkoordinasian dan pengontrolan terhadap sumber daya manusia dan alam untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan
c. Sondang P. Siagian
Manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh hasil dalam
rangka mencapai tujuan melalui kegiatan orang lain.
d. Malayu S.P.
Hasibuan
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber daya yang lain secara efektif dan efesien untuk mencapai
tujuan tertentu[2].
Dari beberapa pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwasanya manajemen adalah proses untuk mencapai tujuannya yang
diinginkan dengan dibantu oleh faktor-faktor pendukung seperti perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan (controlling) dengan
melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan lainnya
Untuk lebih memahami pandangan tentang
manajemen, tidak hanya secara umum namun bagaimana dalam perspektif Islam memaknai manajemen, maka diuraikan sebagai berikut;
Bila makna manajemen lebih ditekankan
pada masalah tanggung jawab, pembagian kerja dan efisiensi, maka hal tersebut
tak jauh beda dengan makna beberapa ayat Al-Qur'an berikut:
Surat
Al-Zalzalah (99):7-8, yang menjelaskan tentang pentingnya
setiap orang bertanggungjawab terhadap karyanya
`yJsù
ö@yJ÷èt
tA$s)÷WÏB >o§s
#\øyz ¼çntt ÇÐÈ `tBur ö@yJ÷èt
tA$s)÷WÏB ;o§s
#vx© ¼çntt ÇÑÈ
Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Surat
Al-An'am (6):165, yang menjelaskan mengenai pentingnya pembagian kerja dalam
suatu organisasi
uqèdur Ï%©!$# öNà6n=yèy_
y#Í´¯»n=yz
ÇÚöF{$#
yìsùuur
öNä3Ò÷èt/
s-öqsù
<Ù÷èt/
;M»y_uy öNä.uqè=ö7uÏj9 Îû !$tB
ö/ä38s?#uä
3 ¨bÎ)
y7/u
ßìÎ| É>$s)Ïèø9$# ¼çm¯RÎ)ur Öqàÿtós9 7LìÏm§ ÇÊÏÎÈ
Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di
bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan
Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Surat
Al-thur (52):21 dan Suart Al-Muddatstsir (74):38 yang berbicara tentang pentingnya pembagian tugas dan
tanggungjawab sesuai dengan keahlian masing-masing.
tûïÏ%©!$#ur
(#qãZtB#uä
öNåk÷Jyèt7¨?$#ur
NåkçJÍhè
?`»yJÎ*Î/
$uZø)ptø:r& öNÍkÍ5
öNåktJÍhè !$tBur
Nßg»oY÷Gs9r&
ô`ÏiB OÎgÎ=uHxå `ÏiB
&äóÓx«
4 @ä.
¤ÍöD$#
$oÿÏ3 |=|¡x.
×ûüÏdu ÇËÊÈ
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka
dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada
mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya.
@ä. ¤§øÿtR
$yJÎ/ ôMt6|¡x.
îpoYÏdu ÇÌÑÈ
Tiap-tiap diri
bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya
Surat
Al-Furqan (25):67, yang berbicara tentang pentingnya efisiensi dalam keuangan
tûïÏ%©!$#ur
!#sÎ)
(#qà)xÿRr&
öNs9
(#qèùÌó¡ç öNs9ur
(#rçäIø)t tb%2ur ú÷üt/
Ï9ºs $YB#uqs%
ÇÏÐÈ
Dan orang-orang
yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula)
kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Adapun prinsip atau kaidah dan tehnik manajemen dalam pandangan agama Islam
adalah Pertama, prinsip amar ma'ruf nahi munkar, kedua kewajiban
menegakkan kebenaran, ketiga, menegakkan keadilan, keempat
keadilan menyampaikan amanat[3]
Dengan demikian dalam pandangan agama Islam, Islam
sangatlah peduli dan mengatur suatu organisasi dengan menggunakan managemen
agar bisa berjalan dengan lancar.
1.2. Pendidikan Islam
Untuk
memudahkan pemahaman tentang pendidikan dalam sudut pandang Islam, maka perlu
di uraikan sehingga nantinya bisa mengetahui kedalaman akan makna pendidikan
Islam
Berikut
ini beberapa pendapat pakar tentang definisi pendidikan Islam:
M.
Arifin, berpendapat bahwa dalam Al-Qur'an berisi juga landasan dan pandangan terhadap pentingnya pendidikan,
sebagaimana ayat dibawah ini:
ِانَّ الدِّيْنَ عِنْدَ
اللهِ اْلاِسْلاَم
Sungguhlah Islam adalah agama yang benar
disisi Allah
Oleh karena itu, bila manusia berpredikat muslim, benar-benar
akan menjadi penganut agama yang baik, menaati ajaran Islam dan menjaga agar
rahmat Allah tetap berada pada dirinya, Ia harus mampu memahami, menghayati,
dan mengamalkan ajarannya sesuai iman dan akidah Islamiah.
Untuk tujuan itu lah, manusia harus
dididik melalui proses pendidikan Islam. Berdasarkan pandangan diatas,
pendiidkan Islam berarti system pendidikan yang dapat memberikan kemampuan
seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai
Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya[4]
Sedangkan Ahmad Tafsir berpendapat pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan oleh
seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan
ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam ialah bimbingan terhadap
seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam
adalah suatu usaha bimbingan nilai-nilai ajaran Islam kepada seseorang sehingga
bisa dipahami dan dapat diprakatekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Majanemen pendidikan Islam menurut prof. Dr Muzamuil Qomar dalam
bukunya manajamen Pendidikan Islam, dikatakan bahwa suatu proses
pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara
menyiasati sumber-sumber belajar dan
hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efesien[5], sementara itu menurut Marno M.Ag dan
Triyo Supriiyanto S.Pd, M.Ag dalam bukunya Manajemen dan Kepemimpinan
Pendidikan Islam, bahwa manajemen Pendidikan Islam sebagai sebentuk
kerjasama untuk melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing),
pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling),
terhadap usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumberdaya-sumberdaya manusia, financial, fisik dan lainnya dengan menjadikan Islam
sebagai landasan dan pemandu dalam praktek operasionalnya untuk mencapai tujuan
organisasi (pendidikan Islam) dalam berbagai jenis dan bentuknya yang intinya
berusaha meembantu seseorang atau sekelompok siswa dalam menanamkan ajaran dan
atau menumbuh kembangakan nilai-nilai Islam[6]
Bisa dipahami bahwasanya manajemen pendidikan Islam adalah
suatu proses pengelolaan dalam sebuah lembaga pendidikan Islam yang melibatkan
unsur-unsur pendukungnya dalam menanamkan ajaran Islam sehingga tercapai tujuan
yang diinginkan secara efektif dan efesien
2. Hakekat manajemen pendidikan Islam
Awal mulanya tema manajemen hanya populer dalam dunia perusahaan atau bisnis. kemudian tema ini
digunakan dalam profesi lainnya, termasuk oleh pendidikan dengan beberapa modifikasi
dan spesifikasi tertentu lantaran terdapat perbedaan objek, Made Pidarta menegaskan:
manajemen sekolah sangat berbeda dengan manajemen bisnis dan merupakan
bagian dari manajemen Negara. namun, manajemen sekolah tidak persis sama dengan
manajemen Negara. kalau manajemen Negara mengejar kesuksesan program baik rutin
maupun pembangunan, maka manajemen sekolah mengejar kesuskesan perkembangan
anak manusia melalui pelayanan-pelayanan pendidikan yang memadai. dengan
demikian, manajemen bisnis maupun manajemen Negara tidak dapat diterapkan
begitu saja dalam dunia pendidikan
Ternyata baik dalam dunia bisnis, Negara, maupun
pendidikan, manajemen memiliki peran penting untuk mengantarkan kemajuan
organisasi. Menurut nanang fatah, teori manajemen mempunyai peran atau membantu
menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas,
dan kepuasan ( satisfaction)[7]
Sehingga dalam hal ini kalau dikaitkan
dengan pendidikan Islam, maka manajemen ini mempunyai peran atau membantu
menjelaskan perilaku lembaga pendidikan islam yang berkaitan dengan motivasi,
produktivitas dan kepuasan dalam mengatur lembaga pendidikan Islam
Sedangkan Proses atau fungsi manajemen sekolah atau lembaga pendidikan pada
dasarnya tidak berbeda dengan fungsi-fungsi manajemen pada umumnya, kalaupun
ada perbedaan itu tidak terletak pada substansinya, tetapi pada praktek
pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut karena dipengaruhi oleh jenis, tipe, dan
karateristik organisasi serta manajer dan anggota (karyawan organisasi)[8]
Oleh karenanya bila dikaitkan dengan
pendidikan Islam, maka manajemen pendidikan secara umum dengan pendidikan Islam
hampir sama orientasinya hanya yang membedakan kalau dalam pendidikan Islam
lebih menekankan nilai-nilai ajaran Islam
3. Hakekat manajemen pendidikan islam sebagai
disiplin ilmu
Sebelum membahas hakekat manajemen
pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu, maka terlebih dahulu akan di bahas arti manajemen dengan syarat-syarat suatu
ilmu karena dengan pembahasan ini akan ditemukan benang merah antara
manajemen dengan ilmu
Secara bahasa, ilmu pengetahuan dan ilmu tidak ada perbedaan secara prinsip
karena ilmu pengetahuan hanya memberikan tekanan pada ilmu, ialah dalam sisi
sistematika dan reliabilitas dan validitas.[9]
Sementara itu antara ilmu dan pengetahuan ada suatu
perbedaan, yakni ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi,
tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris
sedangkan pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik
mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan
adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah
merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan
mekanisme tertentu.[10]
Dengan demikian perbedaan antara pengetahuan
dan ilmu adalah dari sisi metode yang digunakan untuk mengolah suatu
pengetahuan sehingga bisa dibuktikan secara ilmiah
Istilah ilmu
tentunya tidak asing lagi apalagi dalam dunia akademik pendidikan, namun
tentunya perlu diuraiakan dengan beberapa pendapat pakar sehingga dapat
dipahami. Berikut ini definisi ilmu oleh beberapa pakar:
a.
Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau
keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan
istilah yang sederhana[11]
b.
Menurut Liang Gie pengertian ilmu adalah rangkaian
aktivitas penelahaan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh
pemahaman secara rasioanal empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya,
dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang
ingin dimengerti manusia[12].
Liang Gie membuat bagan proses keilmuan sebagai berikut:
ilmu
Dalam bagan
tersebut memperlihatkan bahwa ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia,
aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya metodis
itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis[13]
c.
Tim dosen filsafat ilmu dari UGM Yogyakarta, mengatakan
bahwa “ilmu merupakan pengetahuan yang diatur secara sistematis dan
langkah-langkah pencapainnya dipertanggungjawabkan secara teoritis”[14]
d.
Kata ‘ilm yang dalam bahasa Arab biasa
diterjemahkan sebagai “pengetahuan atau ilmu” merupakan derifasi dari
kata kerja ‘alima عَلِمَ
يَعْلَمُ) (عِلْمًا dengan wazan فَعِلَ يَفْعِلُ
yang berarti “mengetahui”, jadi ‘ilm adalah sebuah kata benda abstrak
sebagai lawan kata dari jahl atau ketidaktahuan. Menurut Ensiklopedi
Islam kata ‘alima digunakan dalam Al-Qur’an secara perfek, imperfek
maupun dalam bentuk imperatif berarti “untuk memahami”. Tetapi
penggunaan dalam imperatif dan perfek mempunyai arti “untuk
belajar”, (tanpa upaya, bentuk kelima ta’allama digunakan ketika nuansa
upaya untuk mengetahui secara sungguh-sungguh). Dengan demikian, ‘ilm
merupakan hasil dari upaya tersebut[15]
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpukan bahwa ilmu adalah “suatu pengetahuan yang
tersusun sistematis dengan menggunakan metode-metode tertentu dan dapat
dipertanggungjawabkan secara teoritis”
Sedangkan
metode ilmu yang tersistematika itu meliputi 6 langkah:
1)
Observasi (pengamatan); pengumpulan dan klasifikasi
Fakta-fakta
2)
Perumusan masalah
3)
Pengumpulan dan klasifikasi fakta-fakta tambahan
4)
Generalisasi
5)
Perumusan hipotesis
6)
Pengujian dan verifikasi[16]
Adapun
syarat sesuatu dapat disebut ilmu pengetahuan harus mempunyai:
a)
Obyek formal sendiri
b)
Metode penelitian
Setelah mengetahui
apa yang menjadi persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu pengetahuan, selanjutnya dilakukan tinjauan
terhadap manajemen pendidikan Islam. Apakah manajemen pendidikan Islam itu
telah memenuhi syarat-syaratnya untuk menjadi ilmu pengetahuan sendiri, sebagai berikut:
a. Tentang obyek.
Ada dua macam obyek ilmu
pengetahuan yaitu obyek material dan obyek formal. dalam manajemen pendidikan
Islam obyek materialnya yaitu sumber-sumber potensial baik yang bersifat
manusia maupun non manusia. Sedangkan obyek formalnya yaitu problema-problema
yang menyangkut apa, siapa, mengapa, dimana, bilamana yang berhubungan dengan
usaha membawa sumber-sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun non
manusia kepada tujuan, dengan kata lain, obyek formal dari manajemen pendidikan Islam adalah kegiatan manusia
dalam usahanya mengelola sumberdaya manusia berdasarkan nilai-nilai Islam.[18]
b. Metode Pengembangan
Banyak metode metode yang dipergunakan dalam manajemen
pendidikan Islam. Metode-metode yang digunakannya dapat dipertanggungjawabkan, dapat dikontrol dan dapat dibuktikannya
untuk mengembangkan pendidikan Islam
Metode pengembangan yang kiranya digunakan dalam manajemen
pendidikan Islam adalah, metode interview, metode observasi, metode eksperimen,
dan sebagainya[19]
c. Sistematika
Mengenai sistematika manajemen pendidikan Islam dapat
diketahuai dengan adanya penggolongan-penggolangan suatu masalah dan pembahasan
masalah demi masalah di dalam pendidikan Islam, misalnya saja masalah siswa,
maka ada pembahasan yang namanya manajemen kesisiwaan, ini menunjukkan bahwa
penyusunan manajemen pendidikan Islam itu telah sistematika[20]
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen
pendidikan Islam telah memenuhi persyaratan-persyaratn pokok sebagai disiplin
ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri
Untuk lebih menegaskan lagi bahwa manajemen pendidikan Islam
termasuk dalam disiplin ilmu, agaknya perlu melihat syarat
tambahan dalam ilmu pengetahuan, yaitu:
1).
Suatu ilmu pengetahuan harus mempunyai dinamika,
artinya ilmu pengetahuan harus senantiasa tumbuh dan berkembang untuk mencapai
kesempurnaan diri
2).
suatu ilmu pengetahuan harus praktis, artinya ilmu
pengetahuan harus berguna atau dapat dipraktekkan untuk kehidupan sehari-hari
Manajemen pendidikan Islam mengalami
perkembangan yang sangat cepat, ini bisa dilihat dari berkembangnya
sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang berlabel Islam tidak hanya mengedepankan ilmu pengetahuan agama namun juga ilmu
pengetahuan umum, contoh saja perguruan tinggi UIN Malang yang tidak hanya
membuka jurusan syariah namun juga ilmu umum sehingga kalau tidak dengan
menggunakan manajemen pendidikan yang baik, maka tentunya akan sulit berhasil
mengingat begitu ketatnya persaingan antar perguruan tinggi namun UIN Malang mampu meyakinkan masyarakat bahwa perguruan tinggi ini tidak kalah
kualitasnya dengan perguruan tinggi lain yang sudah ternama.
C. KESIMPULAN
Dari urain diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan dalam sebuah lembaga
pendidikan Islam yang melibatkan unsur-unsur pendukungnya dalam menanamkan
ajaran Islam sehingga tercapai tujuan yang diinginkan secara efektif dan
efesien
2.
Hakikat manajemen pendidikan islam adalah bagaimana manajemen berperan atau
membantu menjelaskan perilaku lembaga pendidikan yang berkaitan dengan
motivasi, produktivitas dan kepuasan dalam mengatur lembaga pendidikannya.
3.
Manajemen pendidikan Islam menjadi disiplin ilmu karena mencakup persyaratan dalam
suatu ilmu pengetahuan, antara lain:
a. segi obyeknya: manajemen
pendidikan Islam obyek materialnya yaitu sumber-sumber potensial baik yang bersifat
manusia maupun non manusia. Sedangkan obyek formalnya yaitu problema-problema
yang menyangkut apa, siapa, mengapa, dimana, bilamana yang berhubungan dengan
usaha membawa sumber-sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun non
manusia kepada tujuan,
b.
metode pengembangan yang kiranya digunakan dalam manajemen pendidikan Islam
adalah, metode interview, metode observasi, metode eksperimen, dan sebagainya
c.
manajemen pendidikan Islam dapat diketahuai dengan adanya
penggolongan-penggolangan suatu masalah dan pembahasan masalah demi masalah di
dalam pendidikan Islam, misalnya saja masalah siswa, maka ada pembahasan yang
namanya manajemen kesisiwaan.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi, Abu dan Nur Ubuyati, Ilmu Pendidikan
Islam, Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet:2 2001
Arifin, M. Ilmu pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis, Jakarta: Sinar
Grafika Offset, 2003
Bakhtiar,
Amsal, Filsafat Ilmu Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006
Masruri, Hadi dan Imron Rossidy,
Filsafat sains dalam Al-Qur’an. Malang:
UIN Press, 2007
Mulyono,
Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Jakarta"Ar-Ruzz, 2009.
Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam, Malang : Erlangga, 2007
Sidhaharto, B. Arief, Apakah filsafat dan
filsafat Ilmu itu? Bandung; Pustaka Sutra, 2008
Surajiyo, Ilmu
Filsafat Suatu Pengantar Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2005
Surajiyo,
Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2010
TIM Dosen
Filsafat ilmu UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2003
Wiramihardja,
Sutardjo A. Pengantar Filsafat Bandung; PT Refika Aditama, 2007
[4] M. Arifin, Ilmu pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2003) hlm 7
[6] Marno dan Triyo Supriyatno, manajemen dan kepemimpinan Pendidikan Islam, (Bandung: PT Refika Aditama 2008), hlm 5
[9] Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Filsafat
( Bandung; PT Refika Aditama, 2007) hlm 107
[10] Amsal bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2006) hlm 16
[11] Amsal bakhtiar Loc. Cit hlm 15
[12] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar (
Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005) hlm 62
[13] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan perkembangannya di
Indonesia (Jakarta: Bumi Aksara, 2010) hlm 56
[14] TIM Dosen Filsafat ilmu UGM,Filsafat
Ilmu Sebagai dasar pengembangan Ilmu pengetahuan (Yogyakarta: Liberty
Yogyakarta, 2003) hlm 46
[15] Hadi Masruri dan Imron Rossidy,
Filsafat sains dalam Al-Qur’an ( Malang:
UIN Press, 2007) hlm 49
[16] B. Arief Sidhaharto, Apakah filsafat dan
filsafat Ilmu itu? ( Bandung; Pustaka Sutra, 2008) hlm 81